Restorasi Ekosistem dan Penguatan Pangan Lokal

Dunia usaha saat ini dituntut tidak hanya mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Isu perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan ketahanan pangan menjadi bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam program The Chief yang disiarkan MOST Radio pada Kamis, 16 Juli 2026. Pada kesempatan tersebut, Iding Achmad Haidir, Bidang Pertanian, Kehutanan & Lingkungan Hidup DPP HIPPI sekaligus Direktur Utama PT Kaltim Lestari Utama, berbagi perspektif mengenai pentingnya restorasi ekosistem sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan iklim, memperkuat pangan lokal, serta mendorong penerapan Nature-Based Solutions yang mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan dunia usaha.

Dalam wawancara tersebut, Iding menjelaskan bahwa bisnis restorasi ekosistem tidak semata-mata berorientasi pada perdagangan karbon. Menurutnya, tujuan utama dari upaya restorasi adalah mencegah terjadinya emisi karbon melalui perlindungan kawasan hutan, sekaligus memulihkan lahan yang telah terbuka melalui penanaman berbagai jenis pohon yang memberikan manfaat ekologis maupun ekonomi bagi masyarakat. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Pandangan tersebut lahir dari perjalanan panjang yang telah ditempuhnya di bidang konservasi. Sejak usia muda, Iding telah terlibat dalam berbagai kegiatan penelitian satwa liar dan konservasi hutan, mulai dari survei lapangan, pemasangan camera trap, analisis data, hingga publikasi ilmiah. Pengalaman tersebut kemudian diperkuat melalui pendidikan tinggi dan jejaring internasional yang membentuk perspektifnya bahwa pengelolaan sumber daya alam harus didasarkan pada ilmu pengetahuan dan bukti ilmiah.

Karakter kepemimpinan tersebut tercermin dalam pengelolaan PT Kaltim Lestari Utama. Ia menegaskan bahwa bisnis restorasi ekosistem merupakan bidang yang sangat saintifik, sehingga setiap tahapan, mulai dari perencanaan, pengukuran potensi serapan karbon, validasi, hingga verifikasi, dilakukan dengan metodologi yang jelas dan melibatkan para ahli. Menurutnya, keberhasilan restorasi tidak cukup hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari kualitas pengelolaan dan manfaat jangka panjang yang dihasilkan.

Dalam kesempatan tersebut, Iding juga menceritakan perjalanan kariernya dari aparatur sipil negara di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga menjadi pelaku usaha di bidang restorasi ekosistem. Ia mengakui bahwa transisi tersebut membawa perubahan besar, terutama dalam cara mengambil keputusan dan menghadapi tantangan bisnis. Jika sebelumnya terbiasa bekerja berdasarkan arahan, sebagai wirausahawan ia dituntut mampu berpikir strategis, membangun kepercayaan investor, serta mencari solusi atas berbagai tantangan secara mandiri. Pengalaman tersebut membentuk kepemimpinan yang adaptif dan berorientasi pada penyelesaian masalah.
Lebih lanjut, Iding memandang bahwa reputasi merupakan modal utama dalam bisnis restorasi ekosistem. Kepercayaan dibangun melalui integritas, kompetensi, dan konsistensi dalam menjalankan komitmen terhadap konservasi. Oleh karena itu, orientasi perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga memastikan manfaat yang dirasakan oleh lingkungan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Prinsip tersebut menjadi landasan dalam membangun organisasi yang mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan usaha dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam membangun tim, Iding menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu. Menurutnya, tantangan konservasi tidak dapat diselesaikan oleh satu bidang keahlian saja. Karena itu, tim yang dibangun terdiri atas berbagai latar belakang, mulai dari kehutanan, biologi, agroforestri, sosial, komunikasi, hingga kebijakan publik. Keragaman kompetensi tersebut menjadi kekuatan dalam merumuskan solusi yang komprehensif terhadap berbagai persoalan lingkungan.

Selain aspek konservasi, pemberdayaan masyarakat juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari model bisnis yang dijalankan. Program restorasi melibatkan masyarakat desa sebagai mitra dalam kegiatan patroli kawasan, pemantauan satwa liar, hingga pengembangan tanaman agroforestri yang memiliki nilai ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem.

Menutup wawancara, Iding mengajak dunia usaha untuk memandang konservasi sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, setiap pelaku usaha memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, baik melalui upaya menghindari kerusakan (avoid), meminimalkan dampak (minimize), melakukan pemulihan (restore), maupun mengimbangi emisi (offset). Pendekatan tersebut diyakini mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Share the article

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter