HIMPUNAN Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) menyoroti adanya ketimpangan antara data pertumbuhan pariwisata nasional dengan realitas di lapangan. Meski angka kunjungan wisatawan dilaporkan meningkat, banyak pelaku usaha rekreasi justru terpuruk akibat rendahnya daya beli dan tingginya biaya operasional.
Ketua Umum HIPPI, Erik Hidayat mengungkapkan bahwa saat ini terjadi pergeseran perilaku wisatawan yang lebih memilih aktivitas minim biaya. Hal ini menyebabkan pendapatan para operator pariwisata menurun tajam meski jumlah pengunjung terlihat padat.
“Pengunjung ada, tetapi pengeluaran tidak. Ini jelas bagi setiap operator pariwisata, tetapi tidak terlihat dalam data makro ekonomi. Pertumbuhan tanpa keseimbangan hanya akan menimbulkan tekanan di bagian bawah,” ujar Erik melalui keterangan tertulisnya, Kamis (16/4/2026).
Erik menilai industri rekreasi merupakan tulang punggung ekonomi lokal yang melibatkan banyak lapisan, mulai dari UMKM makanan, pedagang kecil, hingga transportasi lokal. Perlemahan di sektor ini diprediksi akan berdampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi wisata.
Menurut Erik, saat ini para pengusaha bekerja keras hanya untuk bertahan hidup dengan margin keuntungan yang sangat minim. Di sisi lain, persaingan usaha semakin keras dan beban pajak serta biaya operasional terus membengkak.

“Industri rekreasi saat ini dalam kondisi terpuruk. Hingga kini, belum banyak kebijakan yang menargetkan sektor ini, apalagi memberikan dukungan nyata, insentif, atau stimulus,” tegasnya.
Erik mendesak pemerintah untuk mengubah arah kebijakan dari sekadar promosi besar-besaran menjadi perlindungan industri. Ia juga menekankan pentingnya distribusi manfaat pariwisata yang lebih adil agar tidak hanya dinikmati oleh pemain besar.
“Pariwisata adalah harapan ekonomi Indonesia. Namun, jika pelaku usahanya mulai menurun, pertumbuhan yang kita saksikan hari ini bisa menjadi semu dan sangat lemah di masa depan,” pungkas Erik. (H-2)
Sumber: Ketum HIPPI Pariwisata Jangan Hanya Kejar Angka, Lindungi Pengusaha Lokal




