Pariwisata Indonesia, secara kasat mata, terlihat baik.
Proyeksi optimisme, dikombinasikan dengan peningkatan jumlah wisatawan, terus dibuat dalam rapat resmi. Namun, ada cerita berbeda di lapangan. Dibandingkan dengan angka yang muncul di permukaan, Asosiasi Pengusaha Asli Indonesia (HIPPI) mengakui bahwa banyak pebisnis, terutama di industri rekreasi, merasakan tekanan.
Industri rekreasi saat ini sedang dalam kondisi terpuruk, dengan penurunan kunjungan ke situs komersial dan peningkatan biaya menjalankan bisnis secara terus-menerus, sehingga banyak pengusaha bekerja untuk bertahan hidup dengan margin keuntungan yang minim.
Ketika Wisatawan Tiba, Tapi Menghabiskan Lebih Sedikit
Wisatawan datang hari ini; namun, cara mereka menghabiskan uang telah merevolusi, dan mereka berprinsip menahan diri dalam pengeluaran mereka. Aktivitas yang lebih terjangkau atau yang ditawarkan dengan biaya kecil atau tanpa biaya semakin populer. Bagi para wisatawan ini, cara mereka bepergian adalah bentuk adaptasi. Bagi pebisnis, mentalitas pelancong ini menempatkan mereka pada posisi yang berisiko.
Pengunjung ada, tetapi pengeluaran tidak; ini jelas bagi setiap operator pariwisata, tetapi tidak terlihat dalam data makro ekonomi,” simpul perwakilan HIPPI.
Pariwisata Lebih Dari Sekadar Statistik, Tapi Siapa yang Kemampuan Bertahan yang Penting
Bagi HIPPI, hasil dari pariwisata tidak ditentukan oleh jumlah orang yang mengunjungi suatu lokasi. Pertanyaan terbaik yang harus diajukan adalah, siapa sebenarnya yang mendapatkan manfaat dari keberhasilan angka-angka ini?
Di tingkat ini, sebagian besar pemangku kepentingan, yang merupakan bagian dari akar rumput ekonomi, mengalami tekanan tertinggi, dengan biaya berbisnis yang meningkat, persaingan yang semakin keras, dan situasi ekonomi yang lebih memojokkan. Sebaliknya, pemain besar lebih mampu bertahan.
Kita Terlalu Fokus pada Angka, Kurang Mendengarkan Cerita Lapangan
HIPPI menilai bahwa kebijakan pariwisata saat ini terlalu fokus pada angka jumlah wisatawan, target kunjungan, keberhasilan promosi. Sementara apa yang terjadi di lapangan membutuhkan pendekatan yang lebih mendalam.
“Kami tidak mengatakan bahwa pertumbuhan tidak penting. Tetapi pertumbuhan tanpa keseimbangan hanya akan menimbulkan tekanan di bagian bawah,” kata Erik Hidayat selaku Ketua Umum HIPPI.
Industri Rekreasi: Tulang Punggung yang Mulai Melemah
Pariwisata bukan sebuah industri, namun sebuah ekosistem. Ekonomi lokal sangat dipengaruhi oleh sektor rekreasi. Di sekitar taman rekreasi, terdapat:
- UMKM makanan
- Pedagang kecil
- Pekerja harian
- Transportasi lokal
Perlemahan sektor ini sangat luas dalam dampaknya. Hingga saat ini, belum banyak kebijakan yang menargetkan sektor ini, apalagi memberikan dukungan nyata, insentif, atau stimulus.
Saatnya Berpindah dari Promosi ke Perlindungan Industri
HIPPI menilai pariwisata Indonesia sudah memiliki daya tarik yang kuat. Yang dibutuhkan sekarang bukan hanya kegiatan promosi, tetapi juga perlindungan dan penguatan sistem. Beberapa hal penting yang harus dilakukan adalah:
- Memberikan ruang dan dukungan lebih besar kepada pengusaha lokal
- Menciptakan kebijakan yang lebih responsif terhadap daya beli masyarakat
- Mendorong model pariwisata yang memprioritaskan belanja ketimbang kunjungan
- Distribusi manfaat pariwisata yang lebih adil
Menjaga Pariwisata sebagai Harapan
Pariwisata selalu menjadi salah satu harapan ekonomi Indonesia. Tidak hanya untuk negara, tetapi juga untuk jutaan pengusaha kecil di pinggiran. Oleh karena itu, HIPPI berharap pemerintah melihat pariwisata tidak hanya dari peningkatan angka, tetapi dari narasi di bawahnya. “Setelah pelaku usaha kuat, pariwisata akan kuat. Tetapi, setelah pelaku usaha mulai menurun, pertumbuhan yang kita saksikan hari ini bisa menjadi sangat lemah,” tutup Erik Hidayat, Ketua Umum HIPPI.





