Oleh:
- Rizanto Binol, Managing Director – Kinanti Consultant & Dandakaranya, Penanggung jawab Kompartemen Riset & Strategi, Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DPP HIPPI
- Renno Reymond, Akademisi & Praktisi Pariwisata – Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DPP HIPPI
Tahun 2025 menandai sebuah fase penting dalam perjalanan pariwisata Indonesia. Sebanyak 154 penghargaan berhasil diraih, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dunia memberi pengakuan. Nama Indonesia semakin sering disebut sebagai destinasi unggulan, bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena pengalaman, budaya, dan keramahtamahan yang ditawarkan.
Bagi sebuah bangsa, pengakuan global semacam ini adalah aset reputasi yang sangat berharga. Namun reputasi, seperti kepercayaan, tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus bekerja, bergerak, dan memberi hasil. Di sinilah pertanyaan yang lebih mendalam muncul: Apakah penghargaan tersebut sudah benar-benar menggerakkan mesin ekonomi nasional melalui skema Tourism–Trade–Investment (TTI)?
Pariwisata: Lebih dari Sekadar Destinasi
Dalam perspektif strategis, pariwisata bukan hanya tentang tempat yang indah atau jumlah kunjungan. Ia adalah pintu masuk ekonomi. Wisatawan membawa persepsi, uang, dan peluang. Ketika dikelola dengan baik, pariwisata membuka jalan bagi perdagangan produk lokal dan mendorong masuknya investasi yang berkelanjutan.
Inilah esensi TTI: pariwisata membangun kepercayaan, perdagangan menciptakan nilai, dan investasi memastikan keberlanjutan.
Penghargaan internasional seharusnya menjadi pemicu rantai nilai TTI. Ia memberi legitimasi, memperkuat citra, dan membuka ruang dialog bisnis global. Namun, dalam praktiknya, hubungan ini belum sepenuhnya terjalin secara sistemik.
Di Mana Kesenjangannya?
Banyak penghargaan masih bekerja kuat di level citra, tetapi belum optimal di level struktur ekonomi. Wisatawan datang, tetapi produk lokal belum selalu menjadi pilihan utama. UMKM hadir, namun sering belum terkurasi dan belum siap masuk dalam rantai pasok pariwisata yang lebih luas. Akibatnya, nilai ekonomi yang seharusnya tinggal di daerah justru mengalir keluar.
Di sisi investasi, minat memang meningkat. Hotel, resort, dan fasilitas wisata tumbuh. Namun investasi sering terkonsentrasi dan belum sepenuhnya memperkuat ekosistem lokal. Keterlibatan masyarakat, transfer pengetahuan, dan penciptaan nilai tambah jangka panjang masih menjadi pekerjaan rumah.
Sementara itu, pariwisata, perdagangan, dan investasi kerap berjalan paralel, bukan terorkestrasi. Masing-masing memiliki program, indikator, dan target sendiri. Padahal kekuatan TTI justru terletak pada keterhubungan dan kesinambungan.
Risiko Reputasi yang Perlu Diwaspadai
Penghargaan menaikkan ekspektasi. Dunia berharap lebih. Jika pengalaman di lapangan tidak sejalan dengan citra yang dibangun, reputasi bisa berbalik arah. Ada risiko bahwa Indonesia dikenal sebagai destinasi yang “menarik di atas kertas”, tetapi belum sepenuhnya matang secara tata kelola dan nilai ekonomi. Lebih dari itu, ada risiko kehilangan momentum: pengakuan global tidak otomatis datang dua kali. Reputasi yang tidak dikapitalisasi melalui TTI adalah reputasi yang diam—terlihat, tetapi tidak bekerja.
Mengubah Penghargaan Menjadi Mesin TTI
Ke depan, tantangannya bukan menambah jumlah penghargaan, melainkan mengubah maknanya. Setiap penghargaan seharusnya diikuti dengan langkah konkret: promosi investasi yang terarah, penguatan perdagangan produk lokal, dan pengembangan pengalaman wisata bernilai tinggi. Destinasi perlu diposisikan bukan hanya sebagai tempat berkunjung, tetapi sebagai ruang ekonomi—tempat wisatawan berinteraksi dengan budaya, produk, dan komunitas lokal.
Pendekatan quality tourism menjadi kunci. Bukan semata-mata lebih banyak wisatawan, tetapi wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, dan meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan. Di sinilah perdagangan dan ekonomi kreatif menemukan momentumnya.
Peran daerah menjadi semakin penting. Pemerintah daerah bukan lagi sekadar pelaksana, melainkan manajer reputasi destinasi, kurator produk lokal, dan fasilitator investasi. Tanpa kepemimpinan daerah, TTI akan selalu berhenti di tataran konsep.
Dari Prestasi Menuju Transformasi
154 penghargaan pariwisata adalah titik awal yang kuat, bukan garis akhir. Ia membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing dan diakui. Namun pengakuan sejati terletak pada dampaknya: pada kesejahteraan masyarakat, pada kekuatan ekonomi lokal, dan pada keberlanjutan jangka panjang.
Jika pariwisata Indonesia mampu mengorkestrasi Tourism–Trade–Investment secara utuh, maka penghargaan tidak hanya akan dikenang sebagai prestasi, tetapi sebagai pemicu transformasi ekonomi nasional.
Pada akhirnya, pariwisata bukan tentang bagaimana dunia memandang Indonesia,
melainkan tentang bagaimana Indonesia memanfaatkan pandangan dunia itu untuk tumbuh, berdaulat, dan berkelanjutan.







